• Sabtu, 13 Agustus 2022

Menyoal LBGT, Penyakit Kelainan Jiwa yang 'Banci' Pengaturannya

- Sabtu, 14 Mei 2022 | 13:36 WIB
Ilustrasi LGBT (Pixabay/QuinceCreative)
Ilustrasi LGBT (Pixabay/QuinceCreative)

Oleh : Desmond Junaidi Mahesa, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra

FAKTAIDN - Polemik soal Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) kembali mengemuka setelah video podcast Deddy Corbuzier yang mengundang nara sumber dari kaum LGBT ramai di bahas di sosial media. Konon gara gara video podcastnya, Deddy Corbuzzer di tinggalkan oleh 8 juta followernya.

Tayangan tersebut juga telah memancing tokoh tokoh nasional untuk angkat bicara. Salah satu tokoh yang bersuara adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD melalui akun twitter pribadinya.

Menurut Mahfud MD LGBT dan pihak yang menyiarkan tayangannya belum ada pelarangan secara hukum di Indonesia.Hal ini dikemukakan usai menjawab pertanyaan dari Said Didu yang mengajukan pemahaman terkait polemik mengenai viral-nya konten Deddy Corbuzier dalam video YouTubenya.

Yang jelas munculnya tayangan di video podcastnya Deddy Corbuzzer itu telah memunculkan pro dan kontra di masyarakat kita. Lalu seperti apa gambaran pro kontra yang terjadi dalam menyikapi adanya LGBT ini di Indonesia ?, Apakah pro kontra tersebut pada akhirnya mempengaruhi pengaturan tentang LGBT di negara kita ?, Ke depan sebaiknya harus bagaimana pengaturannya?

Pro dan Kontra
Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) menjadi topik hangat dan semakin marak diperbincangkan, baik di Indonesia pada khususnya, maupun dunia pada umumnya. LGBT saat ini lebih dari sekadar sebuah identitas, tetapi juga merupakan campaign substance and cover atas pelanggengan Same Sex Attraction (SSA). Perilaku LGBT dimulai dari suatu preferensi homoseksual, kemudian mewujud dalam perbuatan homoseksual, lalu pada akhirnya melekat dalam bentuk perjuangan untuk diterima sebagai perilaku normal dalam membentuk institusi keluarga.

Preferensi homoseksual itu hadir dalam keyakinan atas aktualisasi diri, pemikiran berisi pembenaran preferensi tersebut, dan keinginan yang mendorong untuk merealisasikannya.

Perbuatan homoseksual itu mewujud dalam hubungan interpersonal sesama homoseksual. Selanjutnya, pembentukan keluarga LGBT adalah fase paling mutakhir dalam melanggengkan kedua perilaku yang lainnya, baik preferensinya maupun perbuatannya.

Salah satu dasar pemikiran yang membenarkan perilaku LGBT adalah falsafah etis hedonisme dimana Aristippus sebagai tokoh falsafah hedonisme dan murid Socrates menyebutkan bahwa yang terpenting dalam hidup manusia adalah kesenangan dirinya.Manusia di dunia ini hidup dengan tujuan dapat membahagiakan diri mereka.

Jikalau orang-orang LGBT bahagia bersama dengan orang yang mereka cintai, tanpa memandang apapun termasuk jenis kelamin, itu merupakan hal yang membuat mereka menjadi semangat untuk hidupnya.

Mereka yang mendukung LGBT beranggapan bahwa penganut LGBT tidak merugikan orang di sekitar mereka. Jika hal ini tidak merugikan kita ataupun orang lain mengapa kita harus membenci mereka? Bahkan ingin mengusir atau tidak ingin bersosialisasi dengan mereka.

Mereka juga manusia sama seperti manusia lainnya, hanya saja suatu kebahagiaan dan pilihan mereka berbeda dari orang pada umumnya. LGBT merupakan cara mereka untuk mencapai kebahagiaan dalam hidupnya.

Mungkin mereka yang LGBT memiliki masa lalu yang kelam dan ingin melampiaskannya dengan suatu cara yang berbeda dari orang lain pada umumnya.

Halaman:

Editor: Rizal Muhammadi

Sumber: Law Justice

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X