Survei SMRC: Intoleransi pada Komunis, ISIS, LGBT, Ateis, dan Yahudi Tinggi

- Kamis, 23 Juni 2022 | 14:31 WIB
Saiful Mujani, Pendiri SMRC (Instagram/ saiful_mujani)
Saiful Mujani, Pendiri SMRC (Instagram/ saiful_mujani)

FAKTAIDN - Masyarakat memiliki tingkat intoleransi yang tinggi pada kelompok komunis (PKI), Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), ateis, dan Yahudi. Demikian temuan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Hasil survei ini disampaikan pendiri SMRC, Prof. Saiful Mujani, dalam program Bedah Politik bersama Saiful Mujani episode ‘Menoleransi LGBT, FPI, HTI, ISIS, dan Komunis?’ yang disiarkan melalui kanal YouTube SMRC TV, pada Kamis, 23 Juni 2022 dari Jakarta.

Ada tiga indikator toleransi yang diukur dalam penelitian ini. Pertama, toleransi di ranah sosial. Kedua, terkait dengan pekerjaan. Ketiga, menjadi pejabat publik.

Baca Juga: Tiga Mantan Manajer Proyek Blast Furnace Krakatau Steel Kembali Diperiksa Kejaksaan Agung

Sebanyak 77 persen warga mengaku keberatan bertetangga dengan orang yang memiliki latar belakang PKI. Keberatan yang sama juga terjadi pada ISIS (72 persen), LGBT (68 persen), ateis atau orang yang tidak beragama (57 persen), dan Yahudi (51 persen).

Pada indikator toleransi yang kedua, pekerjaan, terdapat 81 persen warga yang keberatan jika orang yang berlatar belakang komunis atau PKI menjadi guru di sekolah negeri, 77 persen untuk LGBT, 77 persen untuk ISIS, 67 persen untuk ateis, dan 57 persen untuk Yahudi.

Sementara ada 83 persen yang menyatakan keberatan atau sangat keberatan jika orang yang berlatar belakang komunis atau PKI menjadi pejabat publik. Yang keberatan pada orang ISIS untuk menjadi pejabat publik sebesar 78 persen, LGBT 78 persen, ateis 71 persen, dan Yahudi 61 persen.

Baca Juga: Polisi Gagalkan Pemberangkatan Calon TKW Ilegal ke Saudi, Pelaku Dibekuk di Jalan Tol Tangerang-Merak

Saiful menjelaskan bahwa dalam studi dan pemikiran mengenai toleransi, toleransi secara umum dimaknai sebagai sikap individu terhadap pemikiran, identitas, dan keyakinan orang lain yang tidak kita setujui, namun orang itu diakui tetap punya hak-haknya sebagai warga negara.

Saiful mencontohkan bahwa bisa saja dirinya memiliki pandangan atau ideologi politik tertentu, seperti komunisme. Walaupun memiliki ideologi yang berbeda, tapi dia tidak boleh dilarang untuk mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara, hak untuk hidup, untuk mendapatkan pekerjaan, dan menjadi pejabat publik.

Halaman:

Editor: Rizal Muhammadi

Sumber: SMRC TV

Tags

Terkini

X